tentang musik
Perempuan yang lahir dari ibu Minangkabau dan ayah Aceh ini telah melahirkan tiga album solo: Archipelagongs (Warner Music Indonesia, 2000), Music for Solo Performer: Ubiet Sings Tony Prabowo (Musikita, 2006), dan, yang terkini, Ubiet & Kroncong Tenggara (Ragadi Music, 2007).
Archipelagongs adalah album musik pop dengan lirik maupun warna musik yang dirangsang oleh aneka alam, tokoh sejarah, dan upacara dari pelbagai ranah Nusantara. Proyek ini adalah kolaborasi Ubiet dengan Dotty Nugroho (penulis lagu, pembuat aransemen dan penata musik) dan Sekar Ayu Asmara (penulis lirik lagu).
Music for Solo Performer adalah hasil kolaborasi Ubiet dan komposer musik kontemporer Tony Prabowo sepanjang 1999-2005. Musik pada album ini dikerjakan secara pre-recorded, demi menghasilkan berlapis-lapis suara, bahkan hingga mencapai 36 lapis suara, yaitu suara Ubiet sendiri. Media pre-recorded di sini sangat menunjang ia dalam mendayagunakan berbagai gaya, teknik, dan ekspresi bernyanyi secara serempak. Tentang kiprah Ubiet di album ini, harian Kompas menulis bahwa ia “dengan sempurna” membawakan lagu-lagu “dengan jarak antar-nada vertikal yang demikian rapat dan jarak antarnada horisontal yang amat variatif, merentang dari setengah nada sampai sembilan atau lebih nada.”
Ubiet & Kroncong Tenggara terdorong lahir oleh hasrat Ubiet untuk selalu menghidupkan musik dari khazanah Nusantara sendiri; dalam hal ini, kroncong adalah musik populer tertua di kawasan kita yang tumbuh menjadi musik hibrid yang berkembang sejak abad 16. Demi melahirkan musik populer dengan citarasa dan aspirasi baru, kolaborasi antara Ubiet, Dian HP, Riza Arshad dan sejumlah pemain ini bertolak dari kroncong dan memperteguh “jiwa” musik itu dengan mengadopsi berbagai ragam musik, misalnya tango, jazz, melayu, pop, dan klasik.
Tiga album solo di atas jelaslah mencerminkan pluralisme gaya musik Ubiet. Dan ia masih akan terus mengeksplorasi berbagai gaya nyanyi yang lain, kendati ia telanjur menjadi semacam pionir untuk teknik dan gaya nyanyian berhias di tanah air, seperti ditulis Kompas. Demikianlah, tak keliru jika ia ingin menyebut dirinya pesuara.