ubiet.com

January 24, 2008

About

Filed under: Uncategorized — ubiet @ 11:09 am

Ubiet, yang terlahir dengan nama Nyak Ina Raseuki, lebih suka menyebut dirinya pesuara daripada penyanyi. Ia menjelajahi beragam gaya musik. “Ada begitu banyak cara bernyanyi, mungkin ribuan di dunia ini,” katanya dalam sebuah wawancara dengan harian Jakarta Post. Bila ia mengatakan “saya seorang pluralis,” itu berarti ia ingin mengadopsi gaya nyanyi sebanyak mungkin; baginya, setiap tradisi musik punya kepiawaian masing-masing. Paling tidak, selama tiga dasawarsa karirnya, Ubiet telah terlibat dalam berbagai pementasan dan rekaman musik-musik klasik, pop, jazz, kontemporer, maupun musik-musik yang bertolak dari khazanah musik Nusantara. Ia telah berpentas secara nasional maupun internasional.

Kiprah nyanyi Ubiet mulai ketika ia pada masa remaja bergabung dengan sejumlah band pop di Sabang (Pulau Weh) dan Banda Aceh; pada masa itu (akhir 1970an) ia juga pernah mengikuti kompetisi Bintang Radio dan Televisi tingkat Nasional. Ia memasuki Jurusan Musik pada Institut Kesenian Jakarta pada 1983, dengan studi khusus vokal; di masa mahasiswa inilah, seraya tampil dalam sejumlah pentas musik klasik maupun musik untuk pertunjukan tari dan teater, ia adalah pesuara kelompok jazz Splash Band.

Sepanjang 1990-1993, Ubiet mempelajari etnomusikologi, di University of Wisconsin—Madison, Amerika Serikat, sampai mendapatkan gelar Master of Art, dengan penelitian tentang musik seudati Aceh. Masa studi ini membuka matanya terhadap hubungan antara musik dan lingkungan budaya, juga terhadap berbagai tradisi musik dan nyanyi di dunia ini.

Sejak 1989 sampai kini, Ubiet menyanyikan beberapa nomor karya komposer kontemporer Tony Prabowo, yang khusus diciptakan untuknya, tidak hanya untuk panggung musik dan rekaman, namun juga untuk menyertai film, teater, tari, peragaan busana, dan pembukaan pameran seni rupa. Di tahun 1996, keduanya, bersama sejumlah musisi dari latar budaya musik Minangkabau dan pemain viola Stephanie Griffin, membentuk kelompok New Jakarta Ensemble, yang melahirkan album Commonality (Siam Records, New York, 1999).

Ubiet juga telah melakukan kolaborasi dengan berbagai komposer, penulis lagu, dan pemusik dari ranah musik klasik (Trisutji Kamal, Ananda Sukarlan), musik yang bertolak dari khazanah tradisi Nusantara (Rahayu Supanggah, I Wayan Diya, Muhammad “Cilay” Ikhlas), musik kontemporer (Tony Prabowo, Jarrad Powell, Sugeng Pratikno), musik jazz (Dewa Budjana, Tohpati, Dwiki Dharmawan, Riza Arshad dan simakDialog), dan musik pop (Dian HP, Didi AGP, Erwin Gutawa, Ada Band, Andi Rianto, Addie MS). Ia juga telah menyanyi untuk berbagai pementasan tari dan teater Sardono W. Kusumo, Kang Manhong, Yin Mei, Boi G. Sakti, Sulistyo Tirtokusumo, Farida Oetojo, Tom Ibnur, Osman Hamid, Wiwiek Sipala, Djoko Quartantyo, Karen Williams dan Tom Andrews; juga untuk pembukaan pameran foto Oscar Motuloh, pameran grafis Marida Nasution, dan peragaan busana Josephine “Obin” Komara. Sejak 2004, ia terlibat pada kelompok jazz Krakatau, sebagai pesuara, dan menghasilkan dua album Rhythms of Reformation (Musikita, 2005) dan 2 Worlds (Musikita, 2005).

Amat gamblang bahwa Ubiet, yang juga mengajar etnomusikologi di Institut Kesenian Jakarta dan menjadi pelatih kaum penyanyi pop ini, melintasi berbagai genre musik. “Saya ingin menyanyi dengan cara saya, karena saya pikir banyak kemungkinan untuk mengeksplorasi suara,” katanya dalam sebuah wawancara dengan harian Kompas. Dan itulah yang membawanya “mengembara” dari musik klasik Barat ke etnomusikologi dan kemudian tuntas-tuntasan menekuni nyanyian berhias. Untuk mencapai ekspresi terbaik, ia ingin tidak hanya menggunakan resonansi di kepala (yang diwajibkan musik klasik Barat), tapi juga resonansi di dada dan hidung secara bergantian. Ia pun menyimak bagaimana para penyanyi (pedendang, pelagu) dari berbagai khazanah tradisi di dunia, yang memberinya “pelajaran” bagaimana membuat ornamentasi, “menghias” suara; ia juga memperhatikan suara binatang. Ia memadukan teknik mereka dan menemukan tekniknya sendiri, yang memungkinkan ia menjelajahi wilayah resonansi yang ia inginkan. Itulah sebabnya ia sangat membuka diri terhadap berbagai genre dan tradisi musik.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress