ubiet.com

September 18, 2008

The Sparrow Quartet: Suara-suara Organik

Filed under: catatan tontonan musik — ubiet @ 7:54 pm

Beberapa malam berselang, di sebuah gedung teater bersahaja di sebelah Timur kota Madison (Wisconsin) saya menonton, mendengar dan menghayati sebuah kelompok musik dawai berawak empat. Susunan alat musik mereka mungkin kurang lazim, yakni dua banjo, sebuah biolin dan sebuah cello. Salah seorang pemusik, satu-satunya perempuan di antara mereka, berbanjo sekaligus bernyanyi. Mereka adalah kelompok berempat ‘Abigail Washburn & The Sparrow Quartet.’ Kunjungan mereka ke Madison adalah bagian dari tur mereka ke sekujur Amerika Utara.

Panggung mereka berlatar hitam dengan empat kursi kayu bagi pemain. Di atas sejajar kursi-kursi pemain tergantung empat lampion merah. Tanpa aba-aba pengantar, tepat jam delapan, keempat pemusik masuk panggung dan pertunjukan mulai. Berlangsung padat selama dua jam dan dengan jeda lima menit, pertunjukan itu diseling dengan beberapa penjelasan pendek tentang musik, dan seakan tiba-tiba berakhir tanpa saya sadari. Di sebelah saya duduk sepasang penonton muda, yang menghayati pertunjukan sambil sesekali menggoyang-goyangkan anggota tubuhnya.

Dalam ruang teater untuk 900-an orang yang terisi separuh itu, saya memilih tempat duduk di baris ke delapan dari depan panggung, dengan harapan dapat menikmati suara musik akustik mereka dengan baik. Meski alat musik diberi alat-alat penguat suara, namun sang pengatur (insinyur) di belakang papan pengatur suara telah menghasilkan efek akustik yang menyamankan telinga saya. Suara kedua banjo, biolin dan cello, masih mengeluarkan sifat-sifat asli alat-alat tersebut. Selain itu nada-nada yang dihasilkan bersih, jernih. Suara alamiah.

Abigail Washburn & The Sparrow Quartet sudah menghasilkan dua rekaman CD. Mereka terdiri dari Abigail Washburn (banjo dan vokal), Béla Fleck (banjo), Casey Driessen (biolin), dan Ben Sollee (cello); Béla juga bertindak sebagai produser rekaman ini. Musik mereka terpengaruh dari berbagai sumber, terutama old-time dan bluegrass, musik dari jantung Amerika. Dua jenis musik ini, secara umum mempunyai karakteristik petikan banjo cepat dengan ritme yang ajek dan nada berapitan. Begitu juga dengan biola: gesekan nada rapat, cepat, seperti melagukan kalimat tanpa jeda nafas. Dua pemetik banjo menggunakan dua teknik berbeda yakni old-time, clawhammer (petikan ke bawah) dan bluegrass, three-fingered picking atau Scruggs style (petikan ke atas). Selain itu, musik mereka juga mendapat pengaruh dari nyanyian Cina, terutama nyanyian daerah Sichuan. Abigail pernah menetap di Cina. Ketika ia kembali lagi ke Amerika, dan memulai karir musik, ia mulai memasukkan pengaruh musik yang ia alami di sana. Abigail sendiri menyatakan, musik mereka Americana, atau roots music, yakni campuran berbagai musik yang tumbuh di Amerika, dari Appalachian folk, rhythm and blues, Native American, Cajun, bluegrass, gospel, jazz dan seterusnya. Bila didengar secara sepintas, mungkin seseorang akan mengatakan musik mereka esoteris. Namun, tidak demikian bila kita sudah menyimak sungguh-sungguh beberapa gubahan mereka.

Lagu ‘A Fuller Wine,’ misalnya, seperti lagu populer pada umumnya, terdiri dari bait-bait yang diulang-ulang. Ada tiga bait. Di antara bait diberikan jembatan instrumental. Keempat alat musik memainkan bagian gubahan secara bergantian atau bersama-sama. Variasi keempat alat musik dan nyanyian adalah perbandingan intensitas ritme rapat, cepat, seperti rentetan nada yang ‘berlari,’ dengan sahut-menyahut, dan agak senyap. Yang berbunyi hanya banjo Abigail dan nyanyiannya, pada setiap awal sebuah bait. Pada beberapa bagian, biolin atau cello digesek cepat, menghasilkan bunyi perkusif. Kadang-kadang, biolin atau cello juga menciptakan nada bernilai panjang, yang terjalin dengan ritme rapat dan cepat banjo Béla. Seperti sebuah percakapan yang dilakukan melalui alat musik. Dalam lagu ini, dan beberapa lagu yang lain, suara Abigail sangat jernih. Proyeksi suaranya kuat, tajam. Ia terus memindahkan wilayah nada bawah (dada) dan atas secara bergantian, dan sesekali menggunakan yodeling.

Sebenarnya tak ada yang terlalu mengejutkan dari gubahan mereka. Perbendaharaan unsur musikal mereka adalah hal yang biasa digunakan pemusik lain. Namun yang membuat telinga saya tenang adalah, meski mereka memasukkan berbagai unsur dan pengaruh, tak ada kecanggungan gubahan. Maksudnya, bahwa, tak perlu kita mengingat bahwa akar mereka bluegrass, atau old-time, atau nyanyian Sichuan, jazz, atau musik klasik. (Béla, meski memulai karir dengan bluegrass, memiliki kelompok permanen bernama Béla Fleck & The Flecktones, yang dikenal terpengaruh jazz. Adapun Ben menghabiskan waktu lama memainkan repertoar cello klasik). Keempat pemusik ini, sedikit atau banyak, telah bekerjasama dengan berbagai pemusik dari berbagai latar belakang dan jenis musik, baik pemusik Amerika maupun mancanegara, seperti Béla, bekerjasama dengan pemusik India, Afrika, dan seterusnya.

Gubahan ditulis bersama-sama, meski ada beberapa lagu yang ditulis Abigail atau Béla sendiri. Sebuah musik hibrid memang dapat menjadi sangat canggung, apabila percampuran dipaksakan. Namun, mungkin secara kebetulan, bluegrass menggunakan lima nada, demikian juga dengan nyanyian Sichuan yang mereka pilih. Mungkin, keempat pemusik sudah terbiasa bergaul dengan berbagai kultur musik. Mungkin mereka memang menguasai dan memahami musik, baik secara teknis maupun esensi musikal. Buat saya, mungkin mereka sudah tidak canggung dengan bunyi, struktur, bangunan musik mereka sendiri.

Penonton yang duduk di sebelah saya tampak menikmati pertunjukan. Pada waktu jeda, mereka katakan pada saya bahwa mereka tak terlalu mengikuti bluegrass, namun setelah membaca sebuah preview, mereka tertarik untuk menonton. Selain itu mereka mengatakan, bahwa mereka adalah pendengar musik-musik populer pada umumnya. Kini mereka ingin mendengarkan musik Amerika. Saya kembali bertanya, bukankah musik rock, jazz, MTV, pop, adalah musik Amerika. Betul, jawab mereka, namun ini musik Amerika yang belum terpolusi, terutama oleh bunyi elektrik yang hingar. Rupanya, tak hanya makanan organik yang digandrungi penduduk Amerika masa kini, namun juga musik ‘organik.’ Inilah musik yang intim, di mana mereka dapat menghayati unsur-unsur musikal yang terkecil sekalipun.

Ubiet Raseuki

December 16, 2006

KOMPAS: Paduan Suara dari Sebuah Mulut (Ubiet)

Filed under: media — ubiet @ 9:12 pm

Oleh Salomo Simanungkalit

Setelah enam tahun menunggu suara berlapisnya melagukan komposisi-komposisi paduan suara Tony Prabowo diterbitkan dalam bentuk rekaman, penyanyi Ubiet, akhir November lalu, menggenapi impiannya: meluncurkan album Music for Solo Performer, Ubiet sings Tony Prabowo. Lebih detail

Jadilah sebuah paduan suara dengan empat, delapan, bahkan sampai 36 lapis suara—terentang dari vokal laki-laki terendah (bas) sampai vokal perempuan tertinggi (sopran)—yang dihasilkan hanya oleh sebuah mulut seorang wanita bernama Nyak Ina Raseuki alias Ubiet.

Dari tanah kembali ke tanah! Itulah firman menutup kehidupan orang-orang percaya. Dari rekaman kembali ke rekaman! Itulah sabda membuka kehidupan dokumentasi musik garda depan Indonesia masa kini: Ubiet melagukan karya-karya Tony Prabowo.

Betapa tidak! Untuk memungkinkan konser-konsernya dalam delapan tahun terakhir terselenggara, seorang diri (sekali lagi: seorang diri) menyanyikan karya-karya paduan suara Tony Prabowo, Ubiet mutlak melakukan kegiatan ini: merekam suaranya di studio membawakan satu demi satu lapis suara dengan teknik rekam-tindih-rekaman. Setelah rekaman lengkap (minus satu) jadi, barulah Ubiet tampil di atas panggung membawakan langsung lapis suara teratas di hadapan penonton simultan dengan rekaman tadi yang diputar ulang.

Apa jadinya? Bayangkanlah “Osanna in excelsis” dari Missa dalam b-minor JS Bach yang delapan suara itu diperdengarkan dari mulut seorang penyanyi saja. Kalau ini sulit Anda bayangkan, kenang saja lagu-lagu Manhattan Transfer dalam kawanan lengkapnya tapi hanya oleh seorang penyanyi. Kira-kira begitu yang terdengar setiap kali menonton konser Ubiet dalam urapan Tony Prabowo.

Namun, penyanyi yang selalu berupaya mengolah bunyi dengan berbagai gaya, teknik, dan ekspresi merujuk ke pelbagai tradisi bersuara indah lintas daerah lintas negara itu punya keinginan terpendam. Kemungkinan-kemungkinan belia dalam bernyanyi yang ia upayakan itu dapat sampai ke telinga (dan kepala) pencinta musik di berbagai tempat dan masa. Jadi, rekaman latar dan suara langsungnya di panggung tidak hanya terserap oleh telinga penonton, tapi bisa sampai ke siapa saja melalui sebuah album rekaman. Dengan kata lain: rekaman harus kembali ke rekaman!

Tanggapan beberapa perusahaan rekaman selama ini alami saja: ini bukan proyek untung! Untung ada Dwiki Dharmawan. Sahabat Ubiet di grup musik Krakatau ini menerbitkan album Music for Solo Performer, Ubiet sings Tony Prabowo di bawah bendera Musikita. “Saya harus menunggu enam tahun sampai album ini diluncurkan, setelah ketemu teman saya, Dwiki,” kata Ubiet pada peluncuran, 28 November lalu, di Hard Rock Café Jakarta. “Tak satu label pun yang mau menerbitkan CD ini.”

Tentu saja enam tahun masa adven ini harus dibaca sebagai masa keinginan mengalbumkan jenis musik dan cara menyanyi yang tak lazim ini. Soalnya, hanya satu dari 11 karya Tony yang terdapat di sini yang berusia lebih dari enam tahun (Ke Er Se, 1998). Lainnya malah kurang dari enam tahun.

Tujuh komposisi diciptakan tahun 2002 (Cerke, Hampa, The Funeral Pyre, Linastranisi, Requiem, Morituri, dan Wi En Te), tiga lainnya masing-masing digubah pada 2003 (The Art of Dying: Music for Multiple Voices), 2004 (Music for Multiple Voices), dan 2005 (Serambi for Multiple Voices). Statistik lain mengungkapkan, hanya lima dari 11 karya untuk vokal ini yang berbasis kata-kata: Hampa (puisi Chairil Anwar), The Funeral Pyre (Goenawan Mohamad dalam Opera Kali), Serambi (syair Aceh Saleum), Requiem (puisi Eva Christina Zeller dalam bahasa Jerman), dan Morituri (puisi Else Lasker-Schüler dalam bahasa Jerman). Enam lainnya bersandar pada suku bunyi tak bermakna.

Pembagian itu sebetulnya tidak begitu tajam sebab, kecuali Morituri dan separuh bagian dari Hampa, empat komposisi yang berbasis kata-kata itu oleh karena lebar dan durasi suku-suku musikalnya yang panjang dan kanon yang berlapis-lapis menjadi tak bermakna juga sampai ke pendengaran.

Tentu saja kritik pada titik ini tidak hanya dialamatkan kepada Tony Prabowo sebagai komposer yang menata suku-suku kata entah dalam nada tunggal entah dalam nada jamak (melisma), tapi juga Ubiet sebagai penyanyi yang menciptakan sendiri ornamen-ornamen bunyi, seperti yang diakuinya, di luar partitur yang disiapkan sang komposer.

Delapan komposisi adalah paduan suara melulu tanpa iringan musik instrumen. Tiga lainnya komposisi untuk suara tunggal dan berlapis iringan hanya dari satu instrumen (biola Stephanie Griffin pada Funeral Pyre dan Ke Er Se, serta saksofon Budi Winarto pada Morituri).

Pujian buat Ubiet tentulah pertama-tama pada fungsinya yang rangkap: pengaba sekaligus penyanyi semua lapis suara. Dalam tradisi paduan suara, tugas mengenali semua lapis suara berada di pundak pengaba. Tugas penyanyi adalah mengenali dan membawakan dengan tepat satu lapis lengkap yang merupakan tanggung jawabnya. Ubiet menjalankan kedua tugas itu dengan sempurna.

Nilai tambah harus diberikan kepada vokalis ini sebab lagu-lagu yang ia bawakan itu berasal dari jenis dengan jarak antarnada vertikal yang demikian rapat dan jarak antarnada horizontal yang amat variatif, merentang dari setengah nada sampai sembilan atau lebih nada. Hanya penyanyi dengan solfeggio sempurnalah yang dapat mengemban tugas ini dengan baik. Ubiet berhasil membaca partitur Tony Prabowo dengan caranya yang sangat pribadi sehingga spektrum lengkap nada yang terdiri dari 12 anak tangga itu terdengar dalam satu sapuan kalimat demi kalimat melodik.

Dengan berbahankan komposisi Tony Prabowo yang berkarakter kuat dan cara bernyanyi Ubiet yang inovatif, album Music for Solo Performer, Ubiet sings Tony Prabowo yang untuk tahap pertama dicetak sebanyak 1.000 keping ini merupakan sepucuk rekaman nyanyian dari sebuah negeri khatulistiwa yang berkekuatan jadi garam bagi musik dunia. Berbahagialah mereka yang mendengar!

Artikel ini dikutip dari Harian Kompas, terbit Sabtu, 16 Desember 2006

Powered by WordPress